Selasa, 15 Februari 2011

Profil Daerah Asmat


Wilayah Kabupaten Asmat dibagi menjadi 7 (tujuh) Distrik, Distrik-distrik tersebut adalah: Agats, Atsy, Pantai Kasuari, Sawaerma, Suator, Akat, dan Fayit. Distrik Agats, dengan luasan 4.282 Km² (18,03%) merupakan ibu kota Kabupaten Asmat. Distrik terluas adalah Sawaerma dengan luasan 6.974 km² (29,37 %) dan distrik tersempit adalah Distrik Fayit dengan luasan 968 km² atau 4,08% dari total luas Kabupaten Asmat yang mencapai 29.658 km².



Penduduk

Berdasarkan hasil proyeksi, jumlah penduduk Kabupaten Asmat pada tahun 2008 berjumlah 72.874 jiwa. Dari jumlah tersebut 37.874 jiwa (51,97 %) merupakan penduduk laki-laki dan 35.000 jiwa (48,03%) merupakan penduduk perempuan, dengan jumlah rumah tangga mencapai 17.647 rumah tangga.


Kepadatan penduduk mencapai 3,07 jiwa per Km2 luas wilayah. Kepadatan tertinggi terdapat di Distrik Pantai Kasuari dengan tingkat kepadatan 6,96 jiwa per Km2. Berikutnya Distrik Fayit dengan tingkat kepadatan 6,18 jiwa per Km2. Sementara itu Distrik Suator memiliki tingkat kepadatan terendah yaitu 1,96 jiwa per Km2 luas wilayah.


Selayang Pandang

Kabupaten Asmat secara administratif terletak di bagian selatan Provinsi Papua. Wilayah yang terdiri dari 7 distrik dan 139 kampung ini berbatasan dengan Kabupaten Jayawijaya dan Yahokimo di sebelah Utara. Sedangkan pada wilayah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Boven Digoel dan Kabupaten Mappi. Untuk Wilayah Timur berbatasan dengan Laut Arafuru dan Kabupaten Mimika. Sedangkan di sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Mimika.

Dilihat dari karakteristik daratannya bisa dikatakan wilayah ini sangat unik. Wilayah Kabupaten Asmat berada di atas daratan yang lembek karena banyak sungai di sekitarnya. Karena letaknya di dataran rendah dan tepian sungai, maka sepanjang tahun selalu ada genangan air . Setiap hari juga terjadi pasang surut karena letaknya sangat dekat dengan muara sungai yang berhubungan langsung ke laut lepas.

Dari aspek klimatologi, iklim di Kabupaten Asmat cukup bervariasi. Mulai dari daerah beriklim kering di pantai Selatan hingga daerah beriklim basah di bagian Utara, dimana sebagian wilayahnya dibentengi oleh kaki pegunungan Jayawijaya. Seluruh wilayahnya dipayungi oleh hijaunya hutan rimba tropis baik hutan PPA (Perlindungan dan Pelestarian Alam), hutan lindung, hutan produksi maupun hutan produksi konversi yang meliputi lebih dari 85% luas Kabupaten Asmat.

Bagi masyarakat Kabupaten Asmat, keberadaan Laut Arafuru merupakai jembatan perhubungan wilayah di luar Papua, yaitu Australia dan daerah pasifik lainnya. Dari segi aksesibilitas dan ekonomi, posisi ini sangat menguntungkan karena membuka peluang untuk aktivitas perdagangan antar negara yang dapat mendukung perkembangan perekonomian di Kabupaten Asmat.

Perekonomian Kabupaten Asmat digerakkan oleh perdagangan melalu transportasi air, baik laut maupun sungai. Hasil laut dan sungai merupakan sumbe mata pencaharian utama masyarakat Kabupaten Asmat selain hasil hutan berupa kayu dan sagu. Bagi masyarakat Asmat, kekayaan alam berupa ikan, udang, dan kepiting yang sangat mudah didapatkan menjadi semacam jaminan bagi hidup mereka sehari-hari. Semuanya sudah tersedia di alam, tinggal mengambil dari menjualnya. Karena itu, dibandingkan dengan penduduk lain yang berada di pegunungan, masyarakat Asmat relatif lebih mudah untuk mendapatkan penghidupan sehari-hari. Hanya saja untuk sayuran dan buah-buahan harus didatangkan dari daerah lain seperti Merauke atau Timika. Ada kapal barang yang secara rutin melayani rute Merauke-Asmat-Timika. Kapal-kapal barang inilah yang memasok barang-barang kebutuhan pokok yang tidak bisa dihasilkan di Kabupaten Asmat.


Sumber :
http://asmatkab.go.id/asmat/in/profil-daerah/
http://asmatkab.go.id/asmat/in/component/content/article/22-selayang-pandang/71-selayang-pandang.html 

Sumber Gambar:
http://asmatkab.go.id/asmat/images/stories/asmat.gif

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar