Selasa, 15 Februari 2011

Suku Asmat

Identifikasi


Daerah tempat tinggal suku bangsa asmat merupakan daerah dataran rendah yang berawa-rawa dan berlumpur, di daerah sepanjang pantai yang luas, tertutup oleh hutan rimba tropis didominasi pohon-pohon mangrove dan hutan sagu. Makin ke pedalaman hutan rimba yang padat menjadi makin jarang, dan berubah menjadi gerombolan-gerombolan hutan yang terpencar-pencar di daerah hulu sungai-sungai tempat tinggal orang Asmat Hulu.



Sistem Religi dan Kepercayaan

Suku bangsa Asmat yakin bahwa mereka adalah keturunan dewa yang turun dari dunia gaib yang berada di seberang laut di belakang ufuk, tempat matahari terbenam tiap hari. Dalam keyakinan orang Asmat, dewa nenek moyang itu dulu mendarat di bumi di suatu tempat yang jauh di pegunungan. Berdasarkan mitologi masyarakat Asmat berdiam di Teluk Flamingo, dewa itu bernama Fumuripitis.

Orang Asmat yakin bahwa di lingkungan tempat tinggal manusia juga diam berbagai macam roh yang mereka bagi dalam 3 golongan.
1. Yi – ow atau roh nenek moyang yang bersifat baik terutama bagi keturunannya
2. Osbopan atau roh jahat dianggap penghuni beberapa jenis tertentu
3. Dambin – Ow atau roh jahat yang mati konyol

1) Sistem Upacara
Kehidupan orang Asmat banyak diisi oleh upacara-upacara. Upacara besar menyangkut seluruh komuniti desa yang selalu berkaitan dengan penghormatan roh nenek moyang seperti berikut ini :
a. Mbismbu (pembuat tiang)
b. Yentpokmbu (pembuatan dan pengukuhan rumah yew)
c. Tsyimbu (pembuatan dan pengukuhan perahu lesung)
d. Yamasy pokumbu (upacara perisai)
e. Mbipokumbu (Upacara Topeng)

2) Upacara Kematian
Bagi orang-orang Asmat, kematian bukan merupakan hal yang alamiah. Apabila orang tidak mati dibunuh maka mereka percaya bahwa orang tersebut karena suatu sihir hitam yang kena padanya.


Sistem Kekerabatan

Kehidupan suku bangsa Asmat dulunya adalah Semi Nomad, namun sekarang sudah ditinggalkan. Mereka tinggal di pegunungan yang saling berjauhan karena perasaan takut diserang musuh. Rumah Bujang merupakan tempat semua kegiatan desa dan upacara adat terpusat.

Dasar organisasi sosial masyarakat suku bangsa Asmat adalah keluarga inti monogamy kadang-kadang poligini. Kesatuan keluarga yang lebih luas yaitu uxorilokal yakni pasangan pengantin sesudah menikah berada di rumah keluarga yang lebih luas, atau avunkulokal, yaitu pasangan pengantin setelah menikah akan bertempat tinggal di rumah istri dari keluarga ibu.

Tysem adalah tempat orang Asmat melaksanakan kegiatan sehari-hari dan tempat menyimpan senjata maupun peralatan untuk berburu, menangkap ikan, menanam dan berkebun. Seorang ibu dewasa selalu harus mengalami upacara misiasi yang dilaksanakan di rumah terpusat keluarga klan yang disebut yew, yang merupakan rumah keramat, digunakan untuk melaksanakan berbagai upacara religi. Yew biasanya dikelilingi oleh 10 sampai 15 tysem.


Sistem Kesenian

Kesenian suku bangsa asmat erat kaitannya degan kehidupan religinya. Benda-benda kesenian asmat yang amat menarik adalah tiang-tiang Mbis dan perisai-perisai. Mbis dan perisai itu dapat diklasifikasikan kedalam 4 daerah yaitu :

a) Gaya seni Asmat Hilir dan hulu sungai yang mengalir ke dalam teluk flamingo dan arah Pantai Casuarina benda kesenian gaya ini tergolong paling terkenal sejak tahun 1912. Sejak zaman ekspedisi militer Belanda pertama mereka tertarik pada tiang-tiang Mbis dengan patung-patung yang tersusun dari atas ke bawah menurut tata urut silsilah nenek moyang.
b) Gaya Seni Asmat Barat Laut Kesenian perisai orang asmat barat laut berbentuk lonjong dengan bagian bawah yang agak melebar dan biasanya lebih padat dibanding perisai kesenian Asmat Hilir.
c) Gaya Seni Asmat Timur Laut tampak khusus pada bentuk hiasan perisai yang biasanya berukuran sangat besar, kadang-kadang sampai melebihi tinggi orang.
d) Gaya Seni Asmat Daerah Sungai Brazza
Hal yang membuat gaya seni Asmat daerah sungai Brazza berbeda dengan yang lain adalah bagian kepalanya yang biasanya terpisah dari badan.


Sistem Politik

Dalam sistem politik kemasyarakatan Asmat terdapat struktur paroh masyarakat dan pimpinan suku bangsa Asmat.

1. Struktur Paroh Masyarakat
Masyarakat suku bangsa Asmat juga mengenalstruktur paroh masyarakat atau aipem. Pemimpin aipem berinisiatif membicarakan pelaksanaan suatu aktivitas berburu, berkebun, merencanakan pengayuan yang memerlukan banyak orang.

2. Pemimpin Suku Asmat
Pemimpin suku Asmat sederajat dengan warga lain, tetapi ia harus pandai dan ahli dalam pekerjaan atau aktivitas sosial tertentu. Ahli lain yang dianggap lebih terhormat dari pada pemimpin adalah seniman pahat atau wow ipits.


Sistem Perekonomian

Perekonomian suku Asmat mulai dibangun oleh Belanda melalui cabang perusahaan Imex Lumber Trade Company, bekerja sama dengan organisasi-organisasi penyiaran Agama Katholik, Belanda dan Kristen Amerika. Adat istiadat penyuluhan dihapus oleh Pemerintah RI dan melarang lembaga Yew, diganti dengan Balai Desa.

Pembiayaan pembangunaan Irian jaya diperoleh dari bantuan melalui FUNDWI (Fund for the Development of West Irian). Peningkatan kesejahteraan suku Asmat terutama seni patung dan seni ukir, serta membina seniman asli (wow ipits) untuk meningkatkan kreativitasnya.

Sumber :
http://bumikupijak.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=84
9 Desember 2008

Sumber Gambar:
http://asmatkab.go.id/asmat/images/stories/asmatmapbig.jpg

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar